Sedikit tambahan tentang post gue yang berjudul “Human and Death”
Kemarin gue baru beli buku tentang Zen yang ditulis oleh "Wong Kit Kiew"..well ternyata buku ini sebenernya tidak begitu cocok buat gue..karena terlalu banyak membahas Zen dari sisi Budhis..penuh dengan sejarah2 zen yang agak bikin pusing dan lebih banyak membahas zen dari sisi pencapaian "pencerahan"..sedangkan yang mo gue cari adalah aplikasi Zen pada karate, terutama dalam hal latihan maditasi dan "mind-set" saat kita sedang berlatih maupun bertanding.
Tapi setelah gue baca chapter yang menjelaskan tetang hubungan Zen dengan bushido..dan setelah gue baca kembali post gue dibawah..gue baru sadar, bahwa prinsip untuk selalu sadar betapa rapuhnya hidup dan selalu ingat akan kematian yang ditulis oleh bung Coelho si penulis "Pilgrimage" (kalo gak ngerti baca post gue yang dibawah) sesungguhnya sangat mirip dengan "Bushi-do" atau "the way of the warrior".
Bushido diterapkan oleh para samurai baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam peperangan..sebuah prinsip yang menyadarkan para samurai bahwa mungkin mereka tidak akan melihat hari esok seusai peperangan..karena itu para samurai selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memiliki disiplin yang tinggi..dan Bushi-do sesungguhnya mangadopsi prinsip2 "Zen" pada prinsip bahwa hidup itu "kosong", sebuah prinsip yang menyebabkan para samurai selalu siap untuk menerima kematian akibat peperangan ..dan para samurai juga menggunakan meditasi zen untuk mendapatkan ketenangan terlepas dari gaya hidup mereka yang "tidak biasa", juga untuk memperoleh insting dan reaksi yang alamiah selama pertarungan.
Dan bung Coelho ini sesungguhnya dalam penulisannya banyak terpengaruh spiritualitas kristiani (dia orang Brazil)..buku the pilgrimage sendiri bercerita tentang seorang kristiani yang menapaki satu dari beberapa perjalanan suci Kristiani yaitu "The road to Santiago"..sebuah ibadah yang sifatnya menjadi tradisi seperti muslim yang naik haji ke mekah (maaf kalo salah ketik mekah)..dan post gue dibawah yang tentang kematian sesungguh diucapkan oleh "Petrus", nama pembimbing dari tokoh utama novel tersebut..Mengejutkan bahwa ternyata berbagai agama dan prinsip2 spiritualitas lainmnya memiliki beberapa kesamaan yang cukup mendalam.
June 4th, 2006 at 6:46 am
keras sich bahasan nya..hahahaha ok..mnurut gw kematian itu adalah sebuah keuntungan. dan hidup hanya untuk Dia. by living for Him, pasti hidup kita lebi damai dan tenang. yah actually itu jg kan tujuan kita hidup secara Zen dan meditate. seperti yg lu blg, emg mirip2 semuannya hehehe
June 4th, 2006 at 10:55 am
hahaha..berarti u bakal sangat cocok membaca buku “Purpose driven life for cristian”..anyway, kalo mo tau pikiran gue tentang cara hidup, liat aja post pendek human and death gue bagian komentarnya(yang notabene sangat lebih panjang daripada postnya)…disitu ada bahasan panjang lebar antara gue ama senior gue hehehe…
June 4th, 2006 at 2:00 pm
and what are thou seek within it? Enlightment? Or power?
June 5th, 2006 at 6:21 pm
enlightment is abit far for me right now..so, power..well..musashi had his enlightment when he seeks power
June 6th, 2006 at 11:50 am
And sometimes enlightment comes after u practising it,even without enough and proper understanding ^_^
June 7th, 2006 at 7:30 am
Hemm…hanya mencoba untuk memberikan tambahan pemikiran. Ini hasil pengamatan gue mengenai pandangan hidup orang barat modern.
Pandangan Barat:
Manusia itu powerful, manusia itu berharga, hidup itu berharga, masa depan sangat panjang dan indah. Banyak kemajuan teknologi akan dicapai di masa depan.
Dunia sebagai tempat hidup manusia harus diusahakan sebaik-baiknya karena tidak ada lagi dunia setelah mati. Kematian hanyalah berhentinya fungsi sel biologis, that’s it. Tapi dunia kita akan terus berputar asalkan diusahakan oleh manusia-manusia selama sel2 biologis mereka hidup. Hal itu diusahakan agar orang-orang yang dicintai dapat merasakan “nikmat”nya dunia masa depan. Jadi dengan berpandangan bahwa dunia ini akan mencapai masa depan yang baik, masa depan dunia tergantung sepenuhnya pada kinerja manusia, dan kalau tidak diusahakan maka yang mersakan sengsara adalah orang-orang yang dicintai, anak cucu mereka. Mereka akan mengusahakan yang terbaik selama mereka hidup.
Lucu ya, dasar pemikiran yang sama sekali berbeda tapi memiliki hasil akhir yang sama. Ini yang pernah membuat gue berpikir bahwa filosofi2 kehidupan yang ada di dunia ini sebenarnya relatif sama, tinggal diarainnya aja kemana, ibaratnya “Different windows in the same computer…” Hahahaha….:)
Btw, sorry2 bukan bermaksud mengejek lho Ron. Ini emang yang pernah dulu gue pikirin. Dan sampai sekarang gue masih mencoba berpikir kritis dan mencari inti dari seluruh pengajaran (bahkan pada agama gue juga,hehehe…)
June 8th, 2006 at 1:55 am
hahaha..gue gak ngerasa diejek kok ^^ Inti ajarannya ya satu… kasih!! (kalo menurut gue sih, gak tau bener ato salah)..cuman berbeda sudut pandang dan penerapannya aja…tapi jangan minta penjelasan..gue dulu udah pernah berpikir dan menformulasikannya..tapi skarang runutannya gue udah lupa..makanya gue jadi sadar pentingnya punya buku harian untuk paling tidak jadi journal pemikiran kita atau ajaran yang kita terima dalam hidup hehe..
June 10th, 2006 at 7:30 am
buku harian??? wew…
June 12th, 2006 at 3:52 am
itu gue dapat dari “purpose driven” van…