Human and Death

A quite interesting perspective of death which I learned from a book by Paulo Coelho - The Pilgrimage -

these paragraphs below are quoted from page 138-139 of the book

     "Death is an unreal enemy that may destroy you or may turn out to be your best friend"

     "human beings are the only ones in nature who are aware that they will die. For that reason and only for that reason, I have a profound respect for the human race, and i believe that its future is going to be much better than its future. Even knowing that their days are numbered and that everything will end when they least expect it, people make of their lives a battle that is worthy of a being with eternal life. What people regards as vanity - leaving great works, having children, acting in such way to prevent one’s name to be forgotten-I regard as the highest expression of human dignity"

     "Still, being fragile creatures, human always try to hide from them selves the certainty that they will die. They dont see that it is death it self that motivates them to do the best things in their lives. they are afraid to step into the dark, afraid of the unknown, and their only ways of conquering that fear is to ignore the fact that their days are numbered. They don’t see that with an awareness of death, they would be able to be even more daring, to go much further in their daily conquest, because then they would have nothing to lose - for death is inevitable"

5 Responses to “Human and Death”

  1. Ferius Says:

    Not quite agreed with u. Hemm…allow me to give my opinion in Indonesian…Hehehe…

    1. Apakah kematian adalah musuh atau teman?
    No one knows…musuh atau teman?…bahkan kematian adalah suatu pribadi saja tidak ada yang tahu…Itu semua hanyalah personifikasi ala seniman dan sastrawan belaka…seperti yang tersirat secara implisit di film Final destination 3. Kalau dia adalah musuh, maka pasti musuh yang paling kuat dan jahat sekali karena tidak pernah dikalahkan bahkan oleh milyaran makhluk hidup di dunia ini…Kalau di adalah teman maka dia adalah teman yang baik sekali bagi beberapa orang karena membebaskan orang dari penderitaan hidup. Hemm mungkin ada baiknya elu diskusiin tentang hidup. Pasti lebih ngejlimet lagi.

    2. Hemm…menurut gue reaksi orang emang berbeda-beda dalam menyikapi kematian tetapi yang disebut di atas bukan reaksi orang atas kematian. Gue lebih prefer itu reaksi orang terhadap kehidupan. Coba deh pikirin lagi…

    3. Sapa bilang hewan gak sadar? Emangnya Mister Coelho pernah nanya sendiri? Very human…semua hanya berdasarkan pikiran sendiri tau deh bener salahnya…Yup seperti kata-kata Descartes…”Semua hal di dunia ini tidak ada yang pasti…yang pasti cuma satu yaitu saya sedang berpikir…Oleh karena itu dapat disimpulkan saya berpikir maka saya ada…Cogito ergo sum…”

    4. Hemm…banyak orang memang menghindari kematian dan takut membicarakan kematian. Betul sih memang karena mereka takut memasuki suatu ketidakpastian…tetapi itu pasti bukan orang-orang yang beragama…Orang yang beragama menurut gue justru menghitung hari mereka dengan sangat sadar, dan dengan sangat sadar pula yakin (atau berharap) bahwa kematian adalah suatu pintu yang membawa mereka ke kehidupan abadi. Yang jadi masalah kehidupan abadi yang mana…Yang lucu adalah orang-orang yang beragama, yang secara sadar bahwa mereka menjalani suatu countdown, tetapi tetap tidak bertobat dan tetap melakukan kejahatan demi kejahatan…Yah it happens to everyone…I said this not because it doesn’t happen to me…lho…sigh…we’re so human…

    Hehehe…kesimpulan gue,dalam dunia ini ada 2 hal yang sangat besar maknanya dan dua2nya sangat tidak dipahami oleh kita, spesies homo sapiens, tapi kita sok pinter sehingga:
    1. Kita takut akan hal-hal yang tidak kita ketahui. Kita berusaha mencaritahu sebanyak-banyaknya tentang hal tersebut. Kalau tetap tidak bisa diketahui, kita menebak-nebak dan celakanya menyimpulkan secara seenak pikiran kita tentang hal tersebut. Ada yang bilang manusia itu makhluk biologis yang kalau mati ya sudah semua sekesai dsb. Kalau gue sih, gue percaya banget adanya life after death…gue percaya adanya Tuhan

    2. Manusia memalingkan mukanya dan tidak mau mengurusi hal-hal yang tidak pasti tersebut. Daripada mikirin mati mendingan gue mikirin hidup. Hemm…it’s my ways of thinking too but not totally…Gue beranggapan kalau hidup itu berhubungan dengan kematian…Yah lengkapnya baca blog gue deh, yang blog yang nomor 2 ya.

    Daripada mikirin kematian, mending kita mikirin hidup.

    “Karena kita ada di dunia bukan oleh kematian namun oleh kehidupan”

    - by Ferius -
    Not a writer, not an artist, just an ordinary human being with extraordinary God
    (ini gue kutip dari profilenya adik kelas gue hehehe…, satu SMU sama gue dulunya, sekarang anak FKUI angkatan 2005)

  2. Albert Says:

    memusingkan…

  3. 'Aron' Says:

    Hmm..tentang:
    No 1. gimana yah..gue gak menganggap bahwa kutipan diatas mencoba menpersonifikasikan kematian sebagai sesuatu yang berkekuatan…
    makna yang gue ambil dari tulisan diatas cuman satu…”jangan melalui hari2 dengan lupa diri bahwa kita akan hidup selamanya (intinya jangan buang2 waktu hidupmu)…jangan sampai ketika saatnya tiba, kita menyadari bahwa masih banyak didunia ini yang ingin kita lakukan dan kita hanya bisa menyesal bahwa itu tidak dapat kita lakukan lagi “because then they would have nothing to lose - for death is inevitable”.
    No 2. memang, menurut gue, kutipan diatas sebenarnya gak membahas kematian itu sendiri,tapi lebih membahas tentang bila orang itu “sadar sepenuhnya” bahwa dia akan mati, maka dia akan lebih menghargai hidup dan lebih sadar akan keberadaan hidup itu sendiri
    No 3.tentang hewan gak sadar tentang kematian itu sendiri..kita tidak akan pernah tau, tapi menurut gue pemikiran diatas lebih mengacu bahwa hewan tidak pernah terpikirkan untuk melakukan sesuatu yang membuat namanya dikenang..mereka bertindak murni atas insting mereka..yaitu untuk “survive”..gimana yah..ada pepatah dari “taiko”nya eiji yang berbunyi seperti ini ” kalo dalam hidup, seorang manusia cuman berpikir untuk hidup, bekerja mencari uang untuk makan sehari2 dan kecukupan kebutuhan sehari2, maka keringatnya tidak lebih dari keringat sapi yang bekerja diladang untuk mendapat makanan sehari2″ mungkin itu beda antara manusia dan binatang, yaitu masalah “awareness” bahwa kita hidup dan kita bukan hanya mahluk biologis yang bekerja atas reaksi kimia semata, kita bertidak melampaui insting untuk “survive” semata.
    No 4. untuk yang ini gue agak bingung..semua orang juga beragama, paling tidak banyak orang mengakui bahwa mereka percaya tuhan “apalagi ketika ditanya”, tapi lihatlah sekeliling kita, gue yakin, banyak orang tidak memiliki “awareness” bahwa mereka menjalani countdown..kalau pun kita menyadarinya, apakah kita sudah bereaksi dengan cukup atas kesadaran itu…dengan tindakan yang nyata, yaitu “they would be able to be even more daring, to go much further in their daily conquest”.

    Tapi susah juga sih…mungkin makna dari pesan yang ingin disampaikan dari coelho itu sendiri jadi bias karena dari sekian banyak halam buku itu yang sesungguhnya mayoritas membahas tentang “Agape”, gue cuman mengutip 2 halaman ini, heheh…apa daya, pemahaman gue mungkin belum sampai “kesana”…

    lain2:
    Mengenai kebiasaan manusia untuk menebak2 kemana mereka setelah mati, apakah akan di bumi menanti untuk dibangkitkan, atau langsung straight to heaven, atau menjalani api penyucian dulu, menurut gue gini:

    Dalam hidup ini janganlah kita berbuat baik semata karena menantikan keselamatan yang dijanjikan tuhan setelah kematian, takut akan keberadaan neraka, atau takut akan hukuman tuhan itu sendiri..karena jika itu yang terjadi, maka kita tidak lebih dari orang yang melakukan sesuatu karena mengharapkan pamrih, suatu sifat manusia yang semestinya dihindari..gue percaya pada tuhan dan adanya life after death, tapi janganlah hidup kita tertuju untuk itu semata, kematian akan datang dan apa yang terjadi sesudahnya biarlah menjadi urusan kita dengan tuhan kelak ketika saatnya tiba..yang penting adalah, berbuatlah kebaikan karena perbuatan baik itu memang baik adanya, beribadahlah karena beribadah itu memang baik adanya, berbuatlah itu semua bukan untuk hal “sesudah kematian” tetapi untuk “selama hidup ini”, carilah surga bukan setelah kematian melainkan ciptakanlah surga dengan orang2 disekelilingmu dan hiduplah berdasarkan jalan cinta kasih sejati..karena kita “sekarang” hidup diwaktu hidup, bukan setelah mati dan karena Yesus sendiri berkata “diatas bumi seperti didalam surga” (doa bapa kami)

    Prisip yang gue percaya, namun tidak jarang terlalu berat untuk dijalankan, karena gue masih manusia..yang masih memiliki emosi, dendam, iri hati, malas, tidak disiplin, dan lain-lain..tapi yang penting adalah bahwa kita terus berusaha dan terus berusaha..

    -Aron- a never ending learner (sok belagu ikut2an hehehe :P )

  4. Ferius Says:

    Hahaha…good one…Bagus2, gue suka argumen elu. Maksud gue juga begitu sih..Kematian memang suatu hal yang menakutkan dan tidak pasti tapi yang patut dipikirkan adalah kehidupan, dan tidak semua orang sadar akan hal tersebut…Bahkan banyak agama yang lebih fokus pada kematian daripada kehidupan…Mereka melakukan kebaikan bukan karena mereka hidup, namun karena mereka akan mati…Inilah yang gue coba sampaikan di komentar gue yang pertama…Asik juga berdiskusi sama elo…Sering-sering yux kita diskusiin masalah-masalah beginian. GBU!

  5. Stacia Says:

    that’s a very good point and i strongly agree with that. the purpose of god giving us time to be on earth first is to see, to hear, to communicate, to experience, to LIVE. although everyone knows death may come anytime doesn’t mean that we are thinking ahead and only ahead of time, because what makes a meaningful life is to look back and learn then live the present with an eye for the future.

Leave a Reply